Tabula Rasa

a film by Adriyanto Dewo

Jumat, 06 Juni 2014 07:00

Ketika Tabula Rasa Hadir di Universitas Mercu Buana Jakarta

Salah satu undangan workshop pertama yang tim Tabula Rasa terima datang dari sebuah universitas di Jakarta, Universitas Mercu Buana. Dalam rangka memenuhi undangan mereka, pada 16 Mei 2014, Associate Producer Vino G. Bastian, Penulis Tumpal Tampubolon, serta Marketing Director Titis Sapto turut hadir sebagai pembicara. Workshop film diselenggarakan oleh Fakultas Komunikasi Universitas Mercu Buana, yang selaku tuan rumah menyambut kami dengan baik dan penuh antusias.

Para peserta workshop pun ternyata tidak kalah antusias, bahkan besarnya antusiasme peserta membuat panitia untuk membatasi jumlah peserta yang hadir. Panitia terpaksa menolak beberapa pendaftar demi terjaganya kapasitas ideal dari tempat acara, yakni 300 orang. Dengan begitu, suasana workshop yang nyaman dan kondusif akhirnya dapat terlaksana. Acara kemudian dipandu oleh salah seorang mahasiwa Mercu Buana yang berperan sebagai MC.

Selain Q&A antara MC dan tim Tabula Rasa, para peserta juga disuguhkan video mengenai proses pembuatan film Tabula Rasa. Video pertama adalah mengenai fase pra-produksi, yang mencakup banyak worskhop untuk para aktor, termasuk memasak dan bermain bola; video kedua memperlihatkan kejadian-kejadian di balik layar selama syuting film, dan ini merupakan penayangan perdana video ini untuk publik.

Selagi berbicara mengenai fase pra-produksi, Vino menjelaskan bahwa menjadi sebuah hal yang sangat penting untuk menyusun strategi syuting dan marketing sehingga ketika syuting mulai, tidak ada materi yang terbuang dan semua bisa sesuai dengan bujet yang sudah disediakan. Dari segi kreatif, Tumpal mengatakan bahwa pembuat film harus selalu terbuka terhadap ide dan masukan dari orang lain, namun tentunya dari orang-orang yang dipercaya oleh si pembuat film itu sendiri. “Ide seperti bibit tanaman, harus ditanam di kebun, terkena cahaya matahari, terendam air, bisa juga diambil oleh burung. Tapi intinya, ia berkembang. Jangan pernah takut ide kita bisa dikomentari jelek oleh orang lain, itu semua merupakan bagian dari proses.”

Drama manusia yang diperlihatkan di Tabula Rasa serat dengan budaya Indonesia. Maka dari itu, riset merupakan bagian yang sangat penting. Tumpal menjelaskan bagaimana ia melakukan riset mendalam untuk membuat karakter-karakter yang ada di film tersebut. “Riset harus banyak observasi,” tuturnya. Dialek seharusnya tidak superfisial, maka kami sangat beruntung mempunyai penasihat budaya dan pelatih dialek Tom Ibnur yang sudah membantu kami dari awal.

Tim Tabula Rasa sangat berterima kasih atas antusiasme dan keramahan para mahasiswa dan mahasiswi Universitas Mercu Buana.

Read 2588 times
comments powered by Disqus