Tabula Rasa

a film by Adriyanto Dewo

Senin, 02 Juni 2014 00:00

Men of Art: Sebuah Kisah Dari Departemen Art Tabula Rasa

Selalu ada makna tersirat dari setiap kursi, jendela, panci, piring dan segala benda lainnya di dalam sebuah film. Seorang sutradara mempunyai sebuah visi tertentu, sebuah konsep visual yang ia diskusikan dengan seorang Art Director, untuk kemudian diterjemahkan menjadi semua hal yang kamu lihat di layar. Dalam Tabula Rasa, sosok yang bertanggung jawab atas hal ini adalah Art Director Iqbal Marjono beserta timnya, Artworkers Indonesia.

Tabularasa

 

Didirikan pada tahun 2005, Artworkers Indonesia merupakan tim yang terdiri dari 25-30 praktisi film profesional yang senantiasa bekerja dalam bidang Art. Lima belas dari mereka bekerja pada produksi film Tabula Rasa, menghabiskan hari demi hari di dalam set. Sebagian dari mereka bahkan tidak pernah meninggalkan set, melewati masa produksi dengan bermalam di sana. Mereka adalah orang yang pertama kali melihat matahari terbit di pagi hari dan baru tertidur di saat mayoritas orang sudah terlelap, mengemban tanggung jawab untuk menghias set sebelum setiap take diambil dan merapihkannya setelah proses syuting hari itu selesai.

Bekerja dalam film bertema makanan merupakan hal yang baru bagi tim Artworkers Indonesia. Banyak tantangan baru yang mereka hadapi, menjaga kebersihan properti makanan misalnya. Properti makanan tidak hanya harus higienis dan dapat dimakan oleh para pemain tetapi juga harus terlihat benar secara visual dari sudut pandang sang sutradara. Seperti yang sudah kalian tahu, Tabula Rasa sendiri merupakan film yang berfokus pada masakan Padang, oleh karena itu tim Art banyak menghabiskan waktu mereka dalam melakukan riset tentang masakan Padang selama masa pre-produksi. Membaca buku dan mencari melalui internet untuk riset tidaklah cukup. Tim juga harus mengunjungi berbagai restoran Padang untuk mengamati langsung “jantung” dari semua restoran – Dapur.

Membangun sebuah set dapur tradisional sendiri bukanlah perkara yang mudah. Dibutuhkan banyak perhatian khusus dan ketelitian terhadap detail-detail untuk set dapur yang nantinya akan dibangun. Tim pun juga harus familiar dengan proses dari bagaimana cara memasak makanan Padang, peralatan mana yang akan mereka butuhkan saat memasak, dan peralatan mana yang tidak. Untuk itu, selain melakukan riset, konsultasi dengan seorang culinary advisor menjadi sangat perlu. Dengan begitu set yang dibuat tidak hanya memanjakan mata secara visual tetapi juga nyata sehingga dapat dirasakan langsung oleh penonton.

 

Tabularasa

 

Selain bertugas untuk menempatkan properti yang benar pada tempat yang benar, tim Art juga harus selalu mempertimbangkan dimana letak posisi kamera. Harus ada tempat yang cukup untuk meletakkan kamera pada posisi yang tepat di dalam sebuah set. Hal ini kemudian membuat pekerjaan dari departemen Art bersinggungan dengan apa yang dilakukan oleh departemen kamera. Karena itu, komunikasi yang baik antara dua departemen perlu terjalin. Seperti Art Director Iqbal Marjono yang selalu berkomunikasi dengan Director of Photography Amalia TS, untuk selalu memastikan apakah Amalia telah mendapatkan posisi-posisi yang ia inginkan dalam sebuah proses pengambilan gambar yang terbaik.

Meskipun diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk meninterpretasikan pandangan artistiknya sendiri, Iqbal tetap bekerja secara paralel dengan visi dari sutradara Adriyanto Dewo. Adri terkadang meminta Iqbal untuk memunculkan sebuah perasaan khusus dari salah satu set, contohnya seperti bagaimana ia meminta set tertentu untuk terasa hijau, luas, ataupun damai. Ada kalanya juga ia harus menentukan warna dari set, seperti ketika ia diminta untuk membuat set utama yang mempunyai warna yang ‘bertabrakan’ namun dapat saling berdampingan satu dengan yang lain.

Read 2641 times
comments powered by Disqus