Tabula Rasa

a film by Adriyanto Dewo

Jumat, 13 Desember 2013 00:00

Penasihat Budaya Minang dan Pelatih Dialek: Tom Ibnur

Memerankan sebuah karakter adalah pekerjaan dari seorang aktor. Mulai dari karakter dengan latar belakang yang berbeda-beda sampai dengan karakter yang berbicara menggunakan bahasa dan dialek asing – semuanya harus dapat dijiwai dan ditampilkan dengan baik oleh para aktor. Hal ini tidak lepas dari adanya bantuan pihak-pihak tertentu yang membantu mereka, seperti dalam produksi Tabula Rasa misalnya, yang menjadi sangat diberkati karena memiliki Tom Ibnur sebagai pelatih dialek dan penasihat budaya Minang.



Tom Ibnur lahir dengan nama lengkap Arison Ibnur di Padang pada tanggal 15 Mei 1952. Ia memiliki nama yang berarti “Anak Dari Matahari” namun ia kemudian lebih dikenal dengan nama Tom, ketika berhasil mengangkat namanya sebagai salah satu koreografer top di Indonesia. Sampai saat ini, Tom Ibnur telah mengkoreografikan lebih dari 300 seni tari yang sudah dipentaskan di berbagai belahan dunia.

Terlepas dari karirnya di bidang seni tari, Tom Ibnur sebenarnya lulus dari program studi Kimia Analisis di Akademi Teknologi Industri Padang. Ketertarikannya dalam menari sejak umur yang sangat muda membuat semangat Tom Ibnur terhadap seni menjadi sangat kuat. Kemudian pada umur 27 tahun, ia memutuskan untuk mengejar minatnya dalam bidang seni, dengan berusaha mendapatkan diploma dari Institut Kesenian Jakarta.

Tom Ibnur telah berlanglang buana di dunia seni selama puluhan tahun, tanpa henti mengajar serta mementaskan tarian-tarian tradisional Indonesia ke berbagai negara. Dedikasinya yang tidak kenal lelah kemudian membuahkannya dengan penghargaan-penghargaan. Terakhir ini pada tahun 2012, ia menerima penghargaan Maestro dalam bidang Seni Indonesia dari Dewan Kesenian Jakarta. Selain merupakan seorang koreografer yang produktif, Tom Ibnur juga merupakan direktur dari Zapin Center Indonesia, sebuah pusat kajian yang khusus mempelajari Zapin, suatu bentuk tarian yang dilakukan oleh pasangan disertai dengan iringan musik tradisional yang populer di Indonesia dan Malaysia.

Menjadi bagian dari Tabula Rasa merupakan pengalaman yang sedikit berbeda untuk sang maestro. “Mungkin ada banyak orang yang mampu berbicara dalam bahasa Minang, namun tidak banyak dari mereka yang bisa memahami karakter, ekspresi, serta pandangan masyarakat Minang, dan itu adalah hal-hal yang ingin saya coba bagi kepada mereka.” ujar Tom Ibnur dengan penuh semangat. “Lafal pengucapan bahasa Minang yang ditampilkan di dalam film ini bukanlah yang tradisional; Sebaliknya, mereka agak modern. Akan tetapi, mereka masih didasari oleh apa yang benar-benar dipraktekkan oleh masyarakat Minang pada umumnya dan saya ingin berbagi hal tersebut kepada para aktor yang bekerja dalam film ini, sehingga mereka akan merasa lebih dekat dengan budaya dan bahasa Minang itu sendiri.”

Masakan Minang memang sudah terkenal, namun belum pernah ada sebuah film yang berfokus kepada masakan Minang ataupun kepada orang-orang yang berhubungan dengan budaya Minang, dan itulah salah satu alasan mengapa Tom Ibnur merasa bahwa Tabula Rasa ini sangat menarik. Tidak hanya Tabula Rasa berbicara tentang orang Minang, tetapi Tabula Rasa juga memiliki interkoneksi dengan orang-orang dari daerah yang berbeda, dalam hal ini Papua. “Saya menemukan bahwa hal ini sangatlah unik.” kata Tom.

Read 2607 times
comments powered by Disqus